So Do Girls

Masih sehubungan dengan tugas Sejarah Indonesia, kali ini, Aku akan berbagi materi tentang Organisasi dan Tokoh Wanita Pergerakan Nasional. Just enjoy this post! Aku pasti senang kalau banyak yang mengunjungi blog ini. :D

Kalau ditanya, siapa pahlawan wanita yang kalian ketahui, mungkin sebagian besar hanya bisa menjawab R.A Kartini. Si Aku juga dulu seperti itu. Sampai akhirnya, Aku meninjau lebih dalam... ternyata masih banyak tokoh-tokoh yang lainnya!


  • Butet Manurung, pekerja sosial
  • Cut Nyak Dhien, pejuang Perang Aceh, Pahlawan Nasional
  • Cut Nyak Meutia, pejuang Perang Aceh, Pahlawan Nasional
  • Dewi Sartika, perintis pendidikan wanita, Pahlawan Nasional
  • Dita Indah Sari, pejuang kaum buruh
  • Emmy Hafild, aktivis lingkungan, pemimpin Walhi
  • Gadis Arivia, aktivis feminis
  • Johanna Masdani, pejuang kemerdekaan Indonesia
  • Kartini, pejuang persamaan hak, Pahlawan Nasional
  • Lily Zakiyah Munir, pendiri Pusat Studi Pesantren dan Demokrasi
  • Malahayati, pejuang Perang Aceh, laksamana wanita pertama
  • Maria Walanda Maramis, pejuang kemajuan wanita, Pahlawan Nasional
  • Marsinah, pahlawan kaum buruh
  • Martha Christina Tiahahu, pejuang perang Pattimura, Pahlawan Nasional
  • Mien Soedarpo, aktivis wanita Indonesia, Ketua Women's International Club
  • Nursyahbani Katjasungkana, aktivis emansipasi wanita
  • Nyi Ageng Serang, pejuang perang Diponegoro, Pahlawan Nasional
  • Rasuna Said, pejuang persamaan hak, Pahlawan Nasional
  • Ratna Sarumpaet, aktivis sosial, seniman teater
  • Siti Manggopoh, pejuang perang Belasting
  • Suciwati, pejuang hak azasi manusia (HAM)
  • Syarifah Nawawi, pejuang pendidikan wanita
  • Utami Roesli, pejuang ASI, ahli kesehatan anak
  • Wardah Hafidz, aktivis sosial, pemimpin Rakyat Miskin Kota
  • Yeni Rosa Damayanti, pejuang reformasi
  • Yetty Rizali Noor, aktivis perempuan, ketua umum Kowani
 
Organisasi-organisasi wanita yang berdiri pada masa pergerakan nasional antara lain:

1) Putri Mardika (1912)

Putri Mardika adalah organisasi keputrian tertua dan merupakan bagian dari Budi Utomo. Tujuannya adalah untuk memberikan bantuan, bimbingan dan penerangan kepada wanita-wanita pribumi dalam menuntut pelajaran dan dalam menyatakan pendapat di muka umum. Kegiatannya antara lain sebagai berikut: memberikan beasiswa dan menerbitkan majalah bulanan. Tokoh-tokohnya: P.A Sabarudin, R.A Sutinah Joyopranoto, R.R Rukmini, dan Sadikun Tondokukumo.


2) Kartini Fonds (Dana Kartini)

Organisasi ini didirikan oleh Tuan dan Nyonya C. Th. Van Deventer, tokoh politik etis. Salah satu usahanya adalah mendirikan sekolah-sekolah, misalnya: Sekolah Kartini di Jakarta, Bogor, Semarang (1913), setelah itu di Madiun (1914), Malang dan Cirebon (1916), Pekalongan (1917), Subabaya dan Rembang.

3) Kautamaan Istri

Organisasi ini berdiri sejak tahun 1904 di Bandung, yang didirikan oleh R. Dewi Sartika. Pada tahun 1910 didirikan Sekolah Keutamaan Istri, dengan tujuan mengajar anak gadis agar mampu membaca, menulis, berhitung, punya keterampilan kerumahtanggaan agar kelak dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kegiatan ini kemudian mulai diikuti oleh kaum wanita di kota-kota lainnya, yaitu Tasikmalaya, Garut, Purwakarta, dan Padang Panjang.

4) Kerajinan Amal Setia (KAS)

KAS didirikan di Kota Gadang Sumatra Barat oleh Rohana Kudus tahun 1914. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendidikan wanita, dengan mengajarkan cara-cara mengatur rumah tangga, membuat barang-barang kerajinan tangan beserta cara pemasarannya. Pada tahun itu juga, KAS berhasil mendirikan sekolah wanita pertama di Sumatera sebelum terbentuknya Diniyah Putri di Padangpanjang.

5) Aisyiah (1917)

Aisyiah didirikan pada 22 April 1917 dan merupakan bagian dari Muhammadiyah. Pendirinya adalah H. Siti Walidah Ahmad Dahlan. Kegiatan utamanya adalah memajukan pendidikan dan keagamaan bagi kaum wanita, memelihara anak yatim, dan menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan organisasi agar kaum wanita dapat mengambil peranan aktif dalam pergerakan nasional.

6) Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT)

PIKAT didirikan pada bulan Juli 1917 oleh Maria Walanda Maramis di Menado, Sulawesi Utara. Tujuannya: memajukan pendidikan kaum wanita dengan cara mendirikan sekolah-sekolah rumah tangga (1918) sebagai calon pendidik anak-anak perempuan yang telah tamat Sekolah Rakyat. Di dalamnya diajari cara-cara mengatur rumah tangga yang baik, keterampilan, dan menanamkan rasa kebangsaan.

7) Organisasi Kewanitaan Lain

Organisasi Kewanitaan lain yang berdiri cukup banyak, antara lain: Pawiyatan Wanita di Magelang (1915), Wanita Susila di Pemalang (1918), Wanita Rukun Santoso di Malang, Budi Wanita di Solo, Putri Budi Sejati di Surabaya (1919), Wanita Mulya di Yogyakarta (1920), Wanita Katolik di Yogyakarta (1921), PMDS Putri (1923), Wanita Taman Siswa (1922), dan Putri Indonesia (1927).

8) Kongres Perempuan Indonesia

Pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia pertama. Kongres tersebut diprakarsai oleh berbagai organisasi wanita seperti: Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Wanita Mulya, Aisyiah, SI, JIB, dan Taman Siswa bagian wanita. Tujuan kongres adalah mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita Indonesia, dan juga mengadakan gabungan antara berbagai perkumpulan wanita yang ada.

Dalam kongres itu diambil keputusan untuk mendirikan gabungan perkumpulam wanita yang disebut Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) dengan tujuan:
(a) memberi penerangan dann perantaraan kepada kaum perempuan, akan mendirikan studie fond untuk anak-anak perempuan yang tidak mampu;
(b) mengadakan kursus-kursus kesehatan;
(c) menentang perkawinan anak-anak;
(d) memajukan kepanduan untuk organisasi-organisasi wanita tersebut di atas, pada umumnya tidak mencampuri urusan politik dan berjuang dengan haluan kooperatif.

Sources:

Wikipedia
http://ssbelajar.blogspot.com/2012/07/organisasi-wanita-masa-pergerakan.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini