FLP: Deskripsi Seorang Teman

Modal iseng membuka-buka file lama, Aku pun melihat ada hal yang menarik dirinya kembali dalam memori nuansa hitam-putih; mengkilas balik peristiwa yang pernah dialami. Kala itu, di masa SMA(N)-nya, ia mengikuti sebuah ekstrakulikuler bernama Forum Lingkar Pena (FLP). Pada pertemuan FLP tersebut, Bu Eka meminta kami untuk mendeskripsikan seseorang yang tepar berada di depan kita. Dan inilah, karya Aku saat itu.
------------------------------

November 5th, 2015
 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
                
           Gadis ini putih lansat, laksana deretan giginya yang bebas tak terkukung oleh behel, tak sepertiku. Matanya minus, tapi tak jarang ia tak memakai kacamatanya. Entah lantaran karena tak nyaman atau memang seharusnya hanya dipakai di saat tertentu. Gadis yang saat ini tepat duduk di depanku, dan terkadang mencuri-curi pandang kepadaku (tentu karena ia pun harus melakukan hal yang sama sepertiku, mengamati dan menulis sosok yang duduk di depannya) ialah gadis asal Singkawang yang kerap aku panggil Ilil. Jika aku boleh katakan (asal kau jangan memberitahunya, aku takut dipukul) aku bosan terlalu sering bertemu dengannya. Ia, kau, teman sekamarku. Sungguh aku bercanda, Lil. 😊
                Tinggi Nailil sedang, tidak pendek dan tidak lebih tinggi dariku. Bibirnya selalu tak merasa keberatan untuk memproduksi senyum. Hidungnya mancung, matanya pun kecokelatan. Nyaris akan menjadi perpaduang orang sempurna jika digabungkan dengan kulit putihnya. Namun, karena tiada manusia yang sempurna, aku pun tidak akan bilang ia sempurna. Kerudungnya rapih. Ia selalu mengenakan “daleman” sebelum memakai kerudungnya (baca: ciput). Dilihat dari aksesoris yang ia kenakan, kutebak ia dari keluarga berada (omong-omong, memang begitu kenyatannya).
                Bibir mungkin boleh tersenyum, tetapi mata sulit untuk berbohong. Aku melihat kesedihan disana. Kesedihan dalam hidup. Namun ia tetap, seberusaha mungkin menutupinya dengan senyum. Tenang saja, dengan orang terdekatnya, ia akan meruntuhkan dinding usahanya itu. Sepertinya, kisah cintanya cukup rumit, tak jauh berbeda denganku.

hecka athaya shabrina

XI IPS 1

Komentar

Postingan populer dari blog ini